puisiku bukan untuk siapapun

May 14th, 2007 by chelenk

Jika
Ia SebuahCinta

May 11th, 2007

Jika ia sebuah cinta… ia tidak mendengar… namun senantiasa
bergetar.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak buta namun senantiasa melihat dan
merasa.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak menyiksa namun sentiasa menguji.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak memaksa namun senantiasa
berusaha.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak cantik namun senantiasa menarik.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak datang dengan kata-kata namun
senantiasa menghampiri dengan hati.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak terucap dengan kata namun
senantiasa hadir dengan sinar mata.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak hanya berjanji.. namun senantiasa
mencoba menepati.

Jika ia sebuah cinta… ia mungkin tidak suci.. namun senantiasa
harmonis.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak hadir karena permintaan namun
hadir karena ketentuan.

Jika ia sebuah cinta… ia tidak hadir dengan kekayaan dan materi…
namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan.

 

EI VS IQ

October 25th, 2006 by chelenk

AKU SETUJU!!! EI lebih penting dai IQ. Bukan karena IQ gue rendah tapi kalo IQ tinggi tanpa EI yang baik hasilnya juga gak akan berguna bagi kita, bangsa, dan orang di sekitar. Buku EI karya daniel Goleman boleh jadi referensi koleksi perpus klean!!! ini buku BA….GUSSS!!!
berikut adalah tuturan tentang EI yang saya kutip dari kompas

Ada
yang mendefisinikan intelegensi sebagai daya atau kemampuan manusia
untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan
alat-alat berpikir (otak) yang dimilikinya. Di sini dapat kita lihat
bahwa kecerdasan erat kaitannya dengan masalah penyesuaian diri
terhadap masalah yang dihadapinya. Orang yang memiliki intelegensi
tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi
masalah-masalah baru bila dibandingkan dengan orang yang kecerdasannya
kurang. Intelegensi seseorang dapat diungkapkan dengan sebuah alat yang
disebut dengan tes intelegensi (tes IQ). Seorang ahli psikologi
menggolongkan IQ sebagai berikut: kecerdasan rata-rata dengan angka IQ
90-109; di atas rata-rata dengan angka IQ 110-119; cerdas dengan angka
IQ 120-129; dan IQ di atas 130 untuk kategori jenius (cerdas sekali).
 

Kecerdasan Emosional

Lalu
apakah orang dengan IQ yang rendah atau rata-rata tidak akan seberhasil
orang dengan IQ yang tinggi? Pemikiran inilah yang kemudian memunculkan
pentingnya kecerdasan emosi untuk menandingi kecerdasan. Inilah
tantangan bagi mereka yang menganut pandangan sempit tentang
kecerdasan, dengan mengatakan bahwa IQ merupakan masalah keturunan atau
bawaan (genetik) yang tidak bisa diubah lagi, sekalipun oleh pengalaman
hidup seseorang.

Lalu
bagaimana dengan adanya kenyataan bahwa orang yang ber-IQ tinggi pun
bisa gagal sedangkan orang yang ber-IQ rata-rata menjadi sangat sukses
dalam hidupnya. Apakah yang menyebabkan itu semua? Di sinilah
kecerdasan emosional memegang peranan penting, di mana ia mencakup
pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keterampilan seperti ini dapat
diajarkan kepada anak-anak semenjak dini, untuk memberi mereka peluang
yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Apakah
emosi itu? Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran,
perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental (psikologis) yang hebat atau
meluap-luap. Walaupun bentuk emosi itu bermacam-macam yang bahkan
terkadang sulit untuk kita definisikan karena terkadang emosi itu
bercampur aduk menjadi satu. Berbagai macam emosi tersebut bisa
dikategorisasikan menjadi amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan,
cinta, terkejut, jengkel, dan malu.

Walaupun
demikian, daftar pengelompokan emosi ini tidak menjawab setiap
pertanyaan bagaimana pengelompokan bermacam-macam emosi tersebut
dimaknai. Misalnya, bagaimana tentang perasaan yang campur aduk seperti
iri hati, variasi antara perasaan marah yang juga mengandung sedih dan
takut? Hal

inilah yang masih menjadi tantangan bagi para psikolog untuk terus menemukan jawabannya.

 

Keterampilan mengelola emosi

Cinta
yang merupakan bentuk emosi yang sangat populer terutama bagi kalangan
remaja, mengandung unsur-unsur penerimaan, persahabatan, kepercayaan,
kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih. Pacaran
adalah sebuah proses saling mengenal, memahami dan menghargai perbedaan
diantara dua individu. Dalam proses ini tentu saja keterampilan
mengelola emosi sangatlah diperlukan untuk kesuksesan dalam berpacaran
secara sehat! Keterampilan mengelola emosi tersebut meliputi :

  • mampu mengidentifikasikan serta mendefenisikan perasaan yang muncul
  • mampu mengungkapkan perasaan, mampu menilai intensitas (kadar) perasaan
  • mampu mengelola perasaan
  • mampu mengendalikan diri sendiri
  • mampu mengurangi stres
  • mampu mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.

Selain keterampilan emosional, keterampilan yang
berkaitan dengan kecerdasan (kognitif - dalam bahasa psikologinya) juga
penting.


Keterampilan
seperti melakukan monolog (berbicara kepada diri sendiri) atau
melakukan dialog batin untuk menghadapi suatu masalah; dapat membaca
atau menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya mengenali pengaruh
sosial terhadap perilaku kita dan melihat dampak perilaku kita tidak
hanya dengan kacamata pribadi akan tetapi dengan pandangan (perspektif)
yang lebih luas yaitu masyarakat di mana kita tinggal; menggunakan
langkah-langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi
dengan memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin akan terjadi; mampu
memahami sudut pandang orang lain; memahami sopan santun, perilaku mana
yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima oleh orang lain
atau masyarakat; bersikap positif dan optimistis; serta mampu
mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri dan
masa depan kita.

 

Keterampilan berperilaku

Untuk
melengkapi keterampilan emosional dan kognitif, ada satu lagi
keterampilan yang harus kita kuasai untuk dapat berhasil dalam
kehidupan kita (termasuk dalam berpacaran… ) yaitu keterampilan dalam
berperilaku. Perilaku kita mencakup dua hal yaitu perilaku verbal dan
perilaku nonverbal. Perilaku verbal adalah perilaku yang diwujudkan
dengan kata-kata, misalnya mampu mengajukan permintaan-permintaan
dengan jelas (misalnya minta duit, minta cium, minta mobil…he..he..),
menanggapi kritik secara efektif, mampu bersikap asertif (tegas dan
terbuka) untuk menolak pengaruh-pengaruh negatif (no drugs … no
hubungan seks…), dan mampu mendengarkan orang lain. Sedangkan
perilaku nonverbal adalah perilaku yang diwujudkan dengan sikap tubuh,
ekspresi wajah (seperti cemberut, tersenyum, dan seterusnya..),
pandangan mata (melotot, melirik, …), dan lain-lain.

Manusia
dikarunia Tuhan tiga kemampuan tersebut yaitu kecerdasan, emosi dan
perilaku, tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga mampu melengkapi
satu sama lain.

Kecerdasan
emosi tidak hanya penting dan perlu untuk pacaran saja, akan tetapi
juga untuk kesuksesan kita dalam mengarungi hidup ini. Sudah cerdaskah
kita secara emosional? Ataukah kita justru berada dalam golongan orang
yang tidak atau belum mampu mengendalikan emosi kita …

Saatnyalah kita mulai melatih kecerdasan emosi untuk menghadapi tantangan hidup yang kian sulit dan …. Selamat Berlatih!!!

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0211/15/230816.htm

da vinci code

September 28th, 2006 by chelenk

Buku The Da Vinci Code karya Dan Brown memang kontroversial. Begitu
piawainya dia meramu fakta dan fiksi, sehingga sepertinya banyak juga
pembaca yang menelan isinya bulat-bulat, menganggap hal-hal yang
sebenarnya hanya spekulasi pengarang sebagai benar-benar fakta.
Padahal, bahkan hal yang disebutnya "fakta" di halaman depan pun tidak
boleh langsung dianggap fakta.

Bagaimana cara membedakan mana
yang fakta, mana yang fiksi? Membaca buku bantahan DVC ataupun mencari
bantahannya di internet barangkali memakan waktu. Artikel di Wikipedia
ini mungkin bisa membantu menjadi batu pijakan awal. Selain meringkas
DVC, artikel ini juga memuat daftar kritik terhadap buku ini, serta
link menuju banyak situs lain yang mengupas DVC lebih mendetail.

Tapi,
kalau tak mau repot, anggap aja semuanya fiksi! (Dia memang cuma novel
kok!) Take everything you read in DVC with a grain of salt!

http://femmy.multiply.com/links/item/26